Harmonisasi Hindu-Budha Di Candi Singosari

Candi Singosari, Singosari, Malang, Jawa Timur.Sebelum kedatangan Islam, banyak kerajaan besar bercorak Hindu-Budha hadir di Indonesia. Kerajaan-kerajaan ini cukup berjaya hingga seiring waktu mulai meredup entah karena akuisisi kerajaan lain, pimpinan yang kurang tegas, ataupun perang saudara. Salah satunya adalah Kerajaan Singosari, yang merupakan salah satu kerajaan bercorak Budha di Indonesia. Kerjaan yang didirikan oleh Ken Arok dari Kerajaan Kediri ini mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Kertanegara hingga berhasil menguasai Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Campa atau Kamboja, Sumatera, Bakulapura di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Madura, Bali, dan Gurun di Maluku. Sayangnya karena terlalu sibuk melakukan ekspansi ke luar, Singosari kurang memperhatikan kondisi internalnya sehingga menimbulkan perebutan kekuasaan yang berdampak pada kemunduran kerajaan yang ada di abad ke-13 tersebut. Bisa dikatakan kejayaan Kerajaan Singosari hanya sekejap saja dan tak banyak peninggalan yang bisa mereka tinggalkan. Salah satunya yang masih bisa dilihat adalah Candi Singosari.

arca di halamanCandi Singosari merupakan candi bercorak Hindu-Budha karena Kerajaan Singosari menganut agama Syiwa-Budha. Selain itu di dalam candi banyak ditemukan arca Shiwa. Candi yang diperkirakan dibagun pada tahun 1300 M ini berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang. Penemuan pertama kali Candi Singosari pada awal abad 18 atau tahun 1800-1850 oleh Belanda. Bangunan candi yang menyerupai menara ini kemudian mereka sebut dengan nama candi menara. Namun ada pula yang menyebutnya sebagai Candi Cungkup, Candi Renggo, dan Candi Cella. Candi ini dahulunya menjadi tempat ibadah umat Hindu sekaligus umat Budha. Bahkan hingga tahun 2012 candi ini masih digunakan dalam upacara Nyepi dan Ngembak Geni bagi agama Hindu. Begitu pula dengan umat Budha juga merayakan Waisak di candi ini. Namun sayangnya candi ini tak lagi digunakan kedua agama beribadah. Yang tersisa hanya ritual Jamasan atau ruwat candi dengan membersihkan candi memakai tujuh air sumber yang berada di pemandian Ken Dedes. Pemandian ini berada tak jauh dari candi dan hanya berjaarak 1 km. Usai dibersihkan candi  pun dipasang dupa dan dilanjutkan dengan berdo’a.

yoniTinggi tubuh candi yang berada di tengah halaman ini sekitar 1,5 m dan tanpa hiasan ataupun relief di bagian kaki candi. Tangga untuk ke selasar candi tak seperti candi pada umumnya yang dihiasi dengan makara dan diapit pipi tangga. Pintu masuk menuju bagian dalam candi menghadap ke selatan dan berada di siis depan bilik penampil atau bilik yang menjorok ke depan. Pintu masuk ini pun tampak sederhana tanpa bingkai ataupun pahatan. Hanya ada pahatan sederhana kepala Kala di ambang pintunya. Kesederhanaan ini menimbulkan persepsi bahwa candi ini belum selesai dibangun. Candi Singasari nampak bersusun dua dengan bagian bawah candi berbentuk persegi seperti ruangan kecil dengan relung pada masing-masing sisi. Diperkirakan dahulunya juga banyak arca di dalam relung tersebut. Di masing-masing ambang pintu relung terdapat Kala dengan pahatan yang lebih rumit dibandingkan yang ada di relung di tubuh candi dan pintu masuk. Relung arca ini juga ditemukan di kanan-kiri pintu bilik, meski lokasinya agak ke belakang. Ada pula di sisi lain candi dengan ukuran yang lebih besar dan dilengkapi dengan penampil dan hiasan Kala sederhana. Sementara di tengah ruangan utama terdapat yoni yang sayangnya sudah rusak bagian atasnya. Kaki yoni inipun tak dijumpai pahatan.

bekas pemugaran belandaCandi Singosari juga pernah dipugar oleh Belanda di tahun 1930-an, meski belum selesai sepenuhnya. Hal ini terlihat dari pahatan kaki di candi dan adanya tumpukan batu di halaman yang masih belum dikembalikan ke tempat semula. Selain bebatuan bekas pemugarn, di halaman candi juga terdapat beberapa arca Syiwa dengan berbagai posisi dan ukuran, Lembu Nandini dan Durga. Sayangnya arca tersebut tak nampak utuh, entah belum selesai atau justru rusak. Masih ada arca lainnya yang berada 300 m ke arah barat Candi Singasari, yakni dua arca Dwarapala atau raksasa penjaga gerbang dalam ukuran yang sangat besar. Dahulunya arca ini menghadap ke timur namun karena terjadi pergeseran pada saat pengangkatan dari tanah hingga kini menghadap timur laut. Dua arca Dwarapala yang terpisah sejauh 20 m ini memiliki berat masing-masing 4o ton dengan tinggi 3,7 m dan lingkar tubuh mencapi 3,8 m. Dua arca ini diperkirakan sebagai penjaga pintu masuk istana Raja Kertanegara.

arca penjaga pintu masuk istanaCandi yang merupakan tiruan Gunung Meru ini berjarak 10 km dari Kota Malang dan 88 km ke arah selatan dari Surabaya. Sejumlah angkutan umum bisa anda gunakan untuk membantu perjalanan anda menuju candi ini baik dari Malang, Tretes, ataupun Surabaya. Anda juga bisa menggunakan penerbangan domestik dari Surabaya ke Malang. Mengunjungi wisata bersejarah ini anda tak hanya melihat sisa-sisa kejayaan Singosari namun juga bisa melihat betapa masyarakat pada masa itu sangat tenggang rasa dan saling menghormati antar pemeluk agama hingga berbagi tempat ibadah. Anda juga bisa memasukkan Candi Singosari dalam daftar destinasi pada paket wisata ke Malang.

Refrensi:

  • http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_singasari
  • http://www.aktual.co/warisanbudaya/200056menengok-candi-singosari-pemersatu-hindu-budha-di-malang

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.